text-align: left;"> KAMPUNG MEDIA "JOMPA - MBOJO" KABUPATEN BIMA: Dam Pelaparado Meluap, Dua Rumah Terseret Banjir ‘Ratusan Lahan Petani Terancam Gagal Panen’
Info

SELAMAT DATANG

Di Kabupaten Bima, Komunitas Kampung Media pertama yang dibentuk yakni, JOMPA MBOJO. Pasca dikukuhkan di Kantor Camat Woha pada tahun 2009, Kampung Media JOMPA MBOJO secara langsung membangun komunikasi dengan DISHUBKOMINFO Kab. Bima. Pada Jambore Kampung Media NTB (15/9/2012), JOMPA MBOJO mendapatkan penghargaan pada kategori “The Best Promotor”, yang merupakan penilaian tentang peran serta Pemerintah Daerah dalam menunjang segala kegiatan Komunitas Kampung Media, dan juga dinobatkan sebagai DUTA INFORMASI.

Sekilas Tentang Admin

Bambang Bimawan, tapi biasa dipanggil Bimbim.

Sunday, 30 May 2010

Dam Pelaparado Meluap, Dua Rumah Terseret Banjir ‘Ratusan Lahan Petani Terancam Gagal Panen’

Dua unit rumah panggung milik warga Desa Sie Kecamatan Monta, ikut terseret banjir, Jum’at (28/5) sekitar pukul 16.00 wita. Dua unit rumah lainnya di desa setempat, rusak total, satu unit rumah batu amblas. Diduga banjir tersebut kiriman dari Dam Pela Parado. Informasinya, hari itu pula di Kecamatan Parado terjadi hujan lebat.

Rumah panggung 12 tiang milik Abit Syamsuddin, hanyut dibawa arus banjir. Padahal rumah tersebut sempat diikat dengan tali nilon sebesar jempol tangan orang dewasa. Satu barang pun, tidak ada yang tersisa. Kecuali sehelai baju yang melekat di badan korban.

Senasib dengan Majid, rumah semi permanen setara ukuran rumah panggung 9 tiang, juga hanyut tanpa bekas terseret arus banjir. Barang-barang milik Majid pun tidak ada yang terselamatkan, selain sebidang tanah bekas halaman rumah.

Sementara rumah panggung ukuran 9 tiang milik M.Saleh Taher, diporakporandakan arus banjir. Tidak ada barang yang mampu diselamatkan oleh korban, kecuali puing-puing rumah yang telah hancur berantakan. Rumah milik Sahbuddin dan Mansyur M.Said, juga mengalami nasib yang sama.

Beda lagi dengan nasib yang dialami Salahuddin. Bapak lima orang naka tersebut, nyaris tewas bersama istrinya. Ditengah malam hari Jum’at, sekitar pukul 1 malam, rumah batu milik Salahuddin tiba-tiba setengahnya amblas rata dengan tanah. Jumlah korban rumah yang rusak dan hanyut terseret banjir yang disertai potongan kayu hutan di Desa Sie Kecamatan Monta tersebut berjumlah lima unit rumah. Ke lima unit rumah tersebut bertempat di pinggir sungai di RT 09 RW 03 Desa setempat.

Selain rumah yang hanyut dan rusak, banjir bandang kali ini juga menenggelamkan ratusan hektar lahan pesawahan milik warga. Di Desa Sie, Desa Simpasai dan Desa Tangga Kecamatan Monta, diperkirakan seluas 275 Ha lahan yang terendam banjir.

Di atas lahan-lahan pesawahan milik warga tersebut, ada yang ditanami dengan tanaman padi dan tanaman kadelei. Bukan hanya di Kecamatan Monta korban banjir bandang ini, warga di Kecamatan Woha pun ikut merasakan dampaknya.

Ratusan hektar lahan pesawahan di Desa Tenga, Desa Naru dan watasan Desa Waduwani dan lahan pesawahan serta pemukiman warga di Desa Penapali, juga tenggelam. Tidak ada korban lain yang dilaporkan di ke tiga Desa dimaksud, kecuali lahan pesawahan yang tenggelam.

Selain rumah yang hanyut serta lahan pesawahan yang tenggelam, banjir bandang kiriman sungai dam Pela Parado pada Jum’at (28/5) nyaris menelan korban jiwa. Tiga orang warga Desa Pela Kecamatan Monta sempat terseret arus. Namun nyawa ketiganya, masing-masing Siti Rahmawati, Surya Herman dan Nurlaela warga RT 10 Desa Pela berhasil diselamatkan warga lainnya yang kebetulan pada saat itu ada di lokasi kejadian. Siti Rahmawati dan Surya Herman dirawat medis, Nurlaela tidak separah keduanya. Saat ditemui di kediamannya, Siti Rahmawati masih dalam kondisi lemas, meski sesaat setelah kejadian sempat mendapat perawatan secara medis. Siti Rahmawati, terseret arus banjir hingga mencapai ratusan meter. “Saat itu yang saya ingat ada orang yang menarik keluar,” kisahnya. Kala itu, Siti Rahmawati bersama ke dua korban lainnya serta beberapa orang warga lainnya pulang dari sawah. Seperti hari-hari biasanya, dari sawah menuju kampung harus menyeberangi sungai yang diberi nama sungai Rai.

Selain itu, warga di Desa Naru Kecamatan Woha juga ikut panik atas musibah itu. Selain menggenangi pekarangan warga, banjir yang diakibatkan meluapnya air di Dam Pelaparado itu juga merusak beberapa rumah dan ratusan hektar sawah. Hingga Minggu (30/05), air masih terlihat menggenangi puluhan hektar sawah di Kecamatan Woha.

Kepala Desa Naru Kecamatan Woha, Agus Suriyanto mengatakan, banjir mulai meluap di wilayahnya sekitar Pukul 17.00 Wita Jum’at lalu. Hingga malam hari, air makin naik dan melintasi jalan raya serta merendam rumah penduduk, dengan ketinggian sampai paha orang dewasa. “Warga saya yang tinggal di pinggir suangai panik dan sempat mengungsi,” ucap Andi, sapaan Kades Naru, sembari menambahkan, banjir tersebut juga merubuhkan tembok pagar Terminal Tente.

Menurut Andi, sawah yang rusak paling parah di desanya yakni So (Areal) Larangga, So Lanei dan So Lumbu. Kata dia, padi yang baru berumur 20 hari terendam banjir, termasuk bibit padi yang baru disemai. Bahkan tanaman kedelai dan bawang yang siap panen, rusak total. ”Ada sekitar 70-an hektare padi, kedelai dan bawang yang rusak. Kalau dihitung, sekitar Rp500 Juta. Data ini sudah kami serahkan ke kantor Kecamatan,” akunya.

Sementara pihak Sekretaris Camat Woha, Drs Dahlan yang berhasil dikonfirmasi , belum mendapat laporan lengkap dari desa-desa yang dilanda banjir. Informasi sementara yang diterima pihaknya, banjir merendam hampir seluruh desa di kecamatan setempat. Sementara areal persawahan yang terendam diperkirakan mencapai 300 hektare. “Kami masih menunggu laporan dari desa-desa untuk data lengkapnya. Untuk kerugian petani, kami akan tunggu sampai satu minggu, baru akan terlihat padinya rusak atau tidak,” tandasnya. (Joe)

No comments:

Post a Comment