text-align: left;"> KAMPUNG MEDIA "JOMPA - MBOJO" KABUPATEN BIMA: Kotoran Kuda jadi ‘Makanan Pokok’
Info

SELAMAT DATANG

Di Kabupaten Bima, Komunitas Kampung Media pertama yang dibentuk yakni, JOMPA MBOJO. Pasca dikukuhkan di Kantor Camat Woha pada tahun 2009, Kampung Media JOMPA MBOJO secara langsung membangun komunikasi dengan DISHUBKOMINFO Kab. Bima. Pada Jambore Kampung Media NTB (15/9/2012), JOMPA MBOJO mendapatkan penghargaan pada kategori “The Best Promotor”, yang merupakan penilaian tentang peran serta Pemerintah Daerah dalam menunjang segala kegiatan Komunitas Kampung Media, dan juga dinobatkan sebagai DUTA INFORMASI.

Sekilas Tentang Admin

Bambang Bimawan, tapi biasa dipanggil Bimbim.

Wednesday, 23 May 2012

Kotoran Kuda jadi ‘Makanan Pokok’


Ilustrasi
Benhur, boleh dianggap sebagai kendaraan alternatif dalam menjawab isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun keberadaan sarana transportasi tradisional yang mengandalkan tenaga kuda ini, melahirkan berbagai sorotan dari berbagai kalangan.
Sebut saja Sa’ad Bima, warga Woha yang kini tinggal di Jakarta. Saat mudik beberapa waktu lalu, Sa’ad mengeluhkan kondisi kampungnya yang disana-sini selalu saja dipenuhi bekas kotoran kuda. “Semasih kita kecil dulu, kampung ini (Desa Tente,red) ga separah ini kotornya. Sekarang, bekas tahi kuda ada dimana-mana. Bagaimana masyarakat mau sehat jika kondisi kampong seperti,” keluh Sa’ad.
Desa Tente Kecamatan Woha sebagai pusat perbelanjaan masyarakat di enam Kecamatan di wilayah Kae, kata Sa’ad, mestinya bisa ditata sebagus mungkin, minimal mengatur jalur khusus bagi kendaraan benhur atau sado. “Nah, kalau Benhur diatur jalurnya, saya yakin debu kotoran kuda tidak bertebaran di jalan umum ini. Areal parkir benhur juga harus dibuat khusus,” katanya.

Selain mengatur jalur khusus bagi Sado, lanjutnya, pemerintah juga harus meyiapkan tukang sapu untuk membersihkan jalur jalan umum serta lingkungan pekarangan yang berada di pinggir jalan umum. Menurut Sa’ad, untuk menggaji tukang sapu, tidaklah terlalu sulit mendapatkan anggarannya, karena bisa dilakukan secara swadaya.
“Saya yakin masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Woha ini tidak keberatan jika saja ditarik retribusi Rp1000 (seribu rupiah) perbulan untuk menggaji tukang sapu. Lebih bagus lagi jika pemerintah mengalokasikan khusus anggaran untuk gaji tukang sapu,” ucapnya.
Dia berharap, pemerintah dan masyarakat Kecamatan Woha serta Pemerintah Kabupaten Bima, peduli dengan kondisi wilayah Woha yang kian memprihatinkan itu. Karena jika kondisi tersebut dibiarkan, lanjut Sa’ad, masyarakat sangat rentan dengan Tubercolosis alias TBC. “Debu kotoran kuda ini sangat berbahaya, jadi jangan dibiarkan seperti ini. Pemerintah mestinya bisa berpikir keras untuk pemecahan solusinya,” pinta Sa’ad. (Joe)

No comments:

Post a Comment