text-align: left;"> KAMPUNG MEDIA "JOMPA - MBOJO" KABUPATEN BIMA: HUJAN DI ATAS NORMAL WASPADA DEMAM BERDARAH
Info

SELAMAT DATANG

Di Kabupaten Bima, Komunitas Kampung Media pertama yang dibentuk yakni, JOMPA MBOJO. Pasca dikukuhkan di Kantor Camat Woha pada tahun 2009, Kampung Media JOMPA MBOJO secara langsung membangun komunikasi dengan DISHUBKOMINFO Kab. Bima. Pada Jambore Kampung Media NTB (15/9/2012), JOMPA MBOJO mendapatkan penghargaan pada kategori “The Best Promotor”, yang merupakan penilaian tentang peran serta Pemerintah Daerah dalam menunjang segala kegiatan Komunitas Kampung Media, dan juga dinobatkan sebagai DUTA INFORMASI.

Sekilas Tentang Admin

Bambang Bimawan, tapi biasa dipanggil Bimbim.

Friday, 8 October 2010

HUJAN DI ATAS NORMAL WASPADA DEMAM BERDARAH

Prakiraan Musim Hujan 2010/2011 yang dipublikasikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia sifat hujannya  di dominasi oleh sifat hujan normal (58,6%) dan atas normal (37.3%), sementara untuk sifat hujan bawah normal (4.1%).

Prediksi akan tingginya curah hujan yang akan mewarnai Musim Hujan 2010/2011 di dasarkan kepada prediksi BMKG yang menunjukkan adanya anomali suhu muka laut perairan Indonesia yang nilainya negatif. Suhu muka laut yang hangat di wilayah Indonesia, diprediksi akan berlangsung hingga Januari 2011, menyebabkan peluang majunya Musim Hujan 2010/2011 di sebagian besar wilayah Indonesia dengan peluang curah hujan tinggi. Sementara itu suhu muka laut dingin di Ekuator Pasifik Tengah sejak Juni 2010, mengindikasikan terjadinya La Nina, dan diprediksi akan berlangsung hingga Januari 2011 dengan intensitas La Nina Moderat. Mengacu pada prediksi ini, maka curah hujan tinggi tampaknya akan tetap berpeluang terjadi selama periode Musim Hujan 2010/2011.


Apakah dengan meningkatnya curah hujan di musim hujan seperti yang terjadi saat ini bisa mempengaruhi kesehatan masyarakat? Jawabannya: bisa! Wabah penyakit infeksi daerah iklim tropis yang mematikan dan sering dikaitkan dengan perubahan pola iklim salah satunya adalah wabah penyakit DBD.

Dari sudut pandang  epidemiologis, hadirnya Musim Hujan 2010/2011 dapat menjadi faktor pemicu timbulnya bencana baru yaitu wabah penyakit DBD, melengkapi bencana akibat faktor meteorologis lain seperti angin puting beliung, banjir, dan tanah longsor yang akhir-akhir ini sudah menerjang beberapa daerah.

Kondisi curah hujan tinggi selama periode musim hujan, yang diselingi udara panas akibat pergeseran semu matahari yang mulai menuju belahan Bumi selatan akan menyebabkan tingkat kelembapan udara sangat tinggi. Kondisi lingkungan semacam ini tidak hanya mempengaruhi prevalensi kepada penyakit demam berdarah, tetapi juga dapat mempengaruhi prevalensi penyakit-penyakit lain. Perubahan kondisi iklim menyebabkan orang yang memiliki risiko tinggi untuk menderita penyakit-penyakit tersebut akan menjadi semakin rentan terhadap penyakitnya.

Menghadapi kondisi iklim yang kian bervariasi, maka dianjurkan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap wabah penyakit DBD. Sehingga tindakan mitigasi, antisipasi dan adaptasi terhadap kondisi iklim yang kurang menguntungkan makin diperlukan. Apalagi berdasarkan beberapa penelitian, dampak perubahan iklim dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan timbulnya wabah penyakit.

Salah satu contohnya adalah wabah penyakit DBD yang berbasis kepada perubahan iklim, karena perubahan iklim akan menyebabkan terjadinya modifikasi habitat nyamuk aedes aegypti. Perubahan iklim juga menyebabkan peningkatan suhu udara dan curah hujan pada suatu daerah. Tanpa adanya sistem drainase yang baik maka akan timbul genangan-genangan air yang sangat cocok untuk tempat berkembang biak nyamuk pembawa petaka tersebut.

Risiko terbesar wabah penyakit DBD adalah daerah perkotaan yang memiliki sistem drainase kurang baik. Tanpa ada peningkatan curah hujan saja kondisi daerah perkotaan sudah rentan, apalagi dengan adanya peningkatan curah hujan disertai pemanasan intensif maka wabah demam berdarah akan semakin meningkat.

Sementara dalam siklus hidupnya nyamuk aedes aegypti sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air sebagai media berkembang biak dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa. Meningkatnya genangan air akan meningkatkan populasi nyamuk. Dalam aktivitas sehari-hari, nyamuk memerlukan suhu yang tinggi dan didukung oleh udara yang lembap. Hal ini mempercepat nyamuk aedes aegypti menyebarkan virus dengue. Dapat dibayangkan betapa pesat perkembangbiakan nyamuk tersebut yang akhirnya akan meningkatkan risiko epidemik yang kian tinggi.
 
Sepatutnya masyarakat ikut berperan aktif dalam membantu pemerintah mengupayakan pencegahan penyakit yang dapat dipengaruhi oleh kondisi iklim ini. Cara paling efektif memberantas wabah DBD adalah dengan cara ''memotong'' siklus perkembangbiakan nyamuk atau bahkan menghilangkan semua habitat nyamuk yang ada. Umur nyamuk rata-rata dalam keadaan normal sekitar 1 bulan berkembang biak dalam genangan air, penampungan air atau air hujan yang tertampung pada barang-barang bekas yang terlindung dari  sinar matahari langsung, seperti pada ban bekas, batok kelapa, potongan bambu, drum, kaleng, botol dan lain-lain. Di sinilah peran seluruh anggota masyarakat semestinya rajin menjaga kebersihan lingkungan hingga tidak memberi kesempatan berkembangnya telur nyamuk maupun larva nyamuk aedes aegypti.
 
Kapan kondisi aman terhadap ancaman wabah penyakit DBD di wilayah kita masing-masing dapat tercapai? Hasilnya sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat dalam mengantisipasi keadaan tersebut dengan pro aktif dalam menciptakan lingkungan yang bersih***

http://www.facebook.com/notes/wwwbmkggoid/hujan-di-atas-normalwaspada-demam-berdarah-oleh-daryono-alumni-akademi-meteorolo/446491950788

1 comment:

  1. semoga Bima tetap terlindung dari bencana yang akan mengacaukan masyarakat yang semula tentram

    ReplyDelete