text-align: left;"> KAMPUNG MEDIA "JOMPA - MBOJO" KABUPATEN BIMA: Pupuk Langka, Warga Tambora Datangi Dewan
Info

SELAMAT DATANG

Di Kabupaten Bima, Komunitas Kampung Media pertama yang dibentuk yakni, JOMPA MBOJO. Pasca dikukuhkan di Kantor Camat Woha pada tahun 2009, Kampung Media JOMPA MBOJO secara langsung membangun komunikasi dengan DISHUBKOMINFO Kab. Bima. Pada Jambore Kampung Media NTB (15/9/2012), JOMPA MBOJO mendapatkan penghargaan pada kategori “The Best Promotor”, yang merupakan penilaian tentang peran serta Pemerintah Daerah dalam menunjang segala kegiatan Komunitas Kampung Media, dan juga dinobatkan sebagai DUTA INFORMASI.

Sekilas Tentang Admin

Bambang Bimawan, tapi biasa dipanggil Bimbim.

Tuesday, 31 January 2012

Pupuk Langka, Warga Tambora Datangi Dewan


Yakub A Wahab

Sedikitnya 7 orang warga Kecamatan Tambora mendatangi kantor DPRD kabupaten Bima, Selasa (31/1). Kedatangan mereka hendak menemui anggota Komisi II guna audiensi terkait keterlambatan dan tingginya harga Pupuk Urea di wilayah Tambora.

Salah satunya, Yakub A Wahab mengatakan kedatangan mereka tidak lain untuk beraudensi terkait ulah distributor pupuk. Untuk distributor pupuk di wilayah Tambora dikuasai 2 orang, itupun keduanya merupakan warga Kota Bima dan warga Desa Sondosia Kecamatan Bolo. Warga Tambora tidak ada yang jadi pengecer, namun sekarang sudah ada 2 Usaha Dagang (UD). UD itu di dirikan pada awal Januari 2012, “Kedua pemilik UD itu sudah mendapatkan rekomendasi dari Dinas Pertanian, namun oleh distributor tidak di berikan,” herannya Yakub selaku pimpinan UD Dua Putra.


Menurutnya, yang mengherankan adalah didropnya pupuk tidak berdasarkan RDKK. Bahkan ada RDKK-nya tapi tidak di ketahui maupun di tanda tangani oleh Kepala Desa. Jadi kami datang, merupakan perwakilan desa yang ada di Kecamatan Tambora.

Kata dia lagi, berdasarkan laporan dari Dinas Pertanian kabupaten Bima untuk kebutuhan pupuk di Tambora sudah cukup terpenuhi. Namun kenyataannya, masih ada petani yang belum mendapatkan pupuk. Untuk itu, banyak para petani yang datang ke Dompu untuk membeli pupuk. Petani membeli dengan harga tinggi di Dompu, harganya ada yang mencapai Rp 150 ribu persak. Hal itu sudah di luar HET dari pemerintah, untuk Kecamatan Tambora, paparnya, kebutuhan pupuk sebanyak 120 ton. Oleh distributor sudah dikirim pada tahap pertama sebanyak 6 ton, namun yang sampai hanya 3 ton. Selanjutnya pada tahap ke II di kirim lagi pupuk sebanyak 23 ton untuk 5 desa yang ada di Tambora dan terakhir sebanyak 25 ton. “Pupuk masih kurang, padahal sudah tercukupi menurut informasi dari Dinas,” ujar Yakub yang di amini Rudi Syamsu.

Lanjutnya, selain pupuk untuk kebutuhan tanaman padi juga untuk pemupukan tanaman jagung. Lahan yang di kelola cukup luas, ada 260 hektar di tanam jagung sedangkan sisanya di tanam padi. Lahan yang di kelola petani Tambora mencapai 1500 hektar, jadi tak heran kalaupun kekurangan pupuk maupun obat - obatan. “kami berharap agar distributor di Tambora diberikan kewenangan untuk penjualan pupuk kepada penduduk setempat, pasalnya akan mengurangi harga penjualan pupuk.” Terang Yakub.

Katanya, saat sekarang distributor asal Kota Bima dan Sondosia dalam proses penjualan pupuk yakni dengan menjual kepada salah satu warga Tambora yang memiliki uang. Jadi wajar kalaupun harganya tinggi, pasalnya penjualan itu dilakukan dari tangan ke tangan. Sehingga hadirnya UD kami maka akan mengurangi harga jual tersebut. (Orys)

No comments:

Post a Comment