text-align: left;"> KAMPUNG MEDIA "JOMPA - MBOJO" KABUPATEN BIMA: Pupuk Langka, Kantor UPTD Pertanian Woha Di Segel
Info

SELAMAT DATANG

Di Kabupaten Bima, Komunitas Kampung Media pertama yang dibentuk yakni, JOMPA MBOJO. Pasca dikukuhkan di Kantor Camat Woha pada tahun 2009, Kampung Media JOMPA MBOJO secara langsung membangun komunikasi dengan DISHUBKOMINFO Kab. Bima. Pada Jambore Kampung Media NTB (15/9/2012), JOMPA MBOJO mendapatkan penghargaan pada kategori “The Best Promotor”, yang merupakan penilaian tentang peran serta Pemerintah Daerah dalam menunjang segala kegiatan Komunitas Kampung Media, dan juga dinobatkan sebagai DUTA INFORMASI.

Sekilas Tentang Admin

Bambang Bimawan, tapi biasa dipanggil Bimbim.

Friday, 10 February 2012

Pupuk Langka, Kantor UPTD Pertanian Woha Di Segel


Dipicu kelangkaan pupuk, kantor Unit Pelayanan Tekhnis Dinas (UPTD) Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kecamatan Woha di segel mahasiswa Kalampa Kecamatan Woha. Penyegelan itu sudah berlangsung 3 hari, sejak Rabu (8/2) hingga Jum’at (10/2).

Kepala UPTD Pertanian Woha, Ahmad Hakim, A.Md. mengatakan penyegelan kantornya sudah berlangsung 3 hari. Pelakunya para Mahasiswa Kalampa, di picu kelangkaan pupuk dan tingginya harga jual di tingkat pengecer. “Kantor saya sudah Tiga hari di segel, pelakunya mahasiswa yang berasal dari desa Kalampa,” ungkap Ahmad.


Lanjutnya, dirinya merasa heran dan bertanya. Darimana para mahasiswa mengklaim bahwa di wilayah Woha masih kekurangan Pupuk, sedangkan pupuk yang sudah di drop di seluruh desa yang ada di Kecamatan Woha mencapai 255 ton. Berdasarkan RDKK. Kebutuhan akan pupuk urea untuk musim tanam 2012, secara keseluruhan mencapai 255 ton. Padahal, katanya, pihaknya bersama camat sudah sering kali turun melakukan monitoring akan kebutuhan terhadap pupuk urea bagi petani.. di samping monitoring, juga melakukan razia terhadap pengecer ataupun pedagang pupuk yang tak memiliki ijin di sekitar pasar Tente. “hari Kamis (9/2) kemarin, kami bersama muspika Woha melakukan razia di sekitar pasar tente terhadap pengecer ataupun pedagang liar,” papar Ahmad.

Katanya, dari hasil razia itu di temukan 3 orang pegadang atau pengecer liar. Sehingga diamankan di polsek Woha dan Bagian Trantib Kecamatan Woha. jadi, tidak ada alasan untuk dikatakan masih ada kelangkaan pupuk saat sekarang. Pengecer, pada dua hari yang lalu mendrop pupuk untuk desa Pandai sebanyak 6 ton. Demikian juga untuk desa Keli, 3 ton. Desa Risa juga 3 ton bahkan jum’at pagi sudah di bongkar pupuk untuk desa Donggobolo sebanyak 3 ton. “dari hasil monitoring kami, tidak ada petani yang keluhkan kekurangan pupuk urea,” ujarnya.

Dengan demikian, di harapkan agar para Mahasiswa Kalampa, segera membuka kembali kantor UPT Dinas Pertanian Woha agar bisa dilakukan pelayanan terhadap masyarakat Woha.  “selama kantor di segel, saya tetap melaksanakan tugas dan pelayaanan dilangsungkan di rumah saya. Sedangkan staf, intensif melakukan monitoring,”tandas Ahmad.

Sedangkan Irwan, warga Kalampa berharap agar pemerintah  harus tanggap terhadap tuntutan masyarakat. disamping itu juga, mahasiswa juga hendaknya jangan memaksakan kehendak, tuntutan sudah dipenuhi pemerintah makanya segera segel kantor di buka kembali.  “Saya berharap agar adik adik mahasiswa, dating untuk membuka segel, karena tuntutan sudah di penuhi,” harap Irwan.
.
Lanjutnya, persoalan tindakan mahasiswa menyegel kantor harus dikomunikasikan sebagai alat penekan, bukan sebagai wujud anarkis. Namun yang harus diperbaiki ke depan adalah pengawasan. Pasalnya, di situasi kelangkaan pupuk ada saja yang memanfaatkan untuk memperoleh keuntungan secara pribadi. Mahasiswa demo, wajar mengingat harga pupuk bisa mencapai Rp 200 Ribu persak. Jadi harga itu sudah jauh dari harga Eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh Pemerintah.  Disaat petani kelangkaaan pupuk. Muncul pegadang dadakan seperti tukang ojek, bahkan dengan sengaja pengecer membuat pedagang siluman. “Hal inilah yang harus di awasi dengan ketat,” tandas Irwan. (orys)

No comments:

Post a Comment