text-align: left;"> KAMPUNG MEDIA "JOMPA - MBOJO" KABUPATEN BIMA: Jelang Puasa, Petasan Meresahkan
Info

SELAMAT DATANG

Di Kabupaten Bima, Komunitas Kampung Media pertama yang dibentuk yakni, JOMPA MBOJO. Pasca dikukuhkan di Kantor Camat Woha pada tahun 2009, Kampung Media JOMPA MBOJO secara langsung membangun komunikasi dengan DISHUBKOMINFO Kab. Bima. Pada Jambore Kampung Media NTB (15/9/2012), JOMPA MBOJO mendapatkan penghargaan pada kategori “The Best Promotor”, yang merupakan penilaian tentang peran serta Pemerintah Daerah dalam menunjang segala kegiatan Komunitas Kampung Media, dan juga dinobatkan sebagai DUTA INFORMASI.

Sekilas Tentang Admin

Bambang Bimawan, tapi biasa dipanggil Bimbim.

Monday, 16 July 2012

Jelang Puasa, Petasan Meresahkan


Sepekan sebelum bulan suci ramadhan, suara letusan petasan di beberapa kampung di Kecamatan Woha kian meresahkan. Kondisi seperti ini, kerap terjadi hamper setiap tahun memasuki bulan suci.
Tak sedikit orang tua pun pengguna jalan merasa risih dengan suara letusan yang kerap menjadi mainan anak-anak tersebut. Bahkan, tak jarang ada diantara anak yang luka bakar akibat terkena petasan. “Kami senang saja dengan mainan berupa mercon ini walaupun kami harus keluarkan uang untuk membelinya,” ungkap Noval, salah seorang anak asal Desa Tente Kecamatan Woha.

Kata Noval, petasan yang dipasarkan oleh orang-orang tertentu, ada berbagai ukuran mulai dari petasan berukuran jumbo yang harganya sekitar Rp15-20 ribu perbiji hingga petasan kecil seharga seribu perak. ”Tak sedikit juga orang dewasa yang membeli mercon. Seperti mercon jenis kembang api yang harganya sekitar Rp50an ribu,” katanya.
Apakah  ada penjual khusus? Noval justru mengaku tak pernah membeli langsung kepada pedagang. Dia mendapatkan barang tersebut dari tangan ke tangan. Bahkan terkadang dia menyuruh temannya untuk membelinya. “Mungkin penjualannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Karena di pasar sepertinya tidak dijual bebas,” kata Noval yang telah memasukji usia SMP tersebut.
Sementara H.Arajak M.Ali, warga Desa Naru Kecamatan Wohja, mengaku risih dengan letusan mercon dimana-mana. Ironisnya, suara letusan itu kerap terdengar disaat mereka tengah menjalankan ibadah sholat. “Nggak shoal dhuhur atau Magrib, letusan mercon sering kami dengar,” akunya.
Rajak meminta pihak keamanan pro aktif memantau dan mengontrol aktivitas anak-anak dan oknum-oknum tertentu yang bermain petasan. Dia juga meningatkan aparat kepolisian untuk mengincar pedagang petasan atau mercon. Karena selain mengganggu kekhusuan ibadah, keberadaan petasan atau mercon bisa mengancam jiwa anak-anak. “Kondisi seperti ini harus segera diantisipasi,” tandasnya. Bim

No comments:

Post a Comment