text-align: left;"> KAMPUNG MEDIA "JOMPA - MBOJO" KABUPATEN BIMA: Ketika Gema Adzan Belum Cukup Memanggil
Info

SELAMAT DATANG

Di Kabupaten Bima, Komunitas Kampung Media pertama yang dibentuk yakni, JOMPA MBOJO. Pasca dikukuhkan di Kantor Camat Woha pada tahun 2009, Kampung Media JOMPA MBOJO secara langsung membangun komunikasi dengan DISHUBKOMINFO Kab. Bima. Pada Jambore Kampung Media NTB (15/9/2012), JOMPA MBOJO mendapatkan penghargaan pada kategori “The Best Promotor”, yang merupakan penilaian tentang peran serta Pemerintah Daerah dalam menunjang segala kegiatan Komunitas Kampung Media, dan juga dinobatkan sebagai DUTA INFORMASI.

Sekilas Tentang Admin

Bambang Bimawan, tapi biasa dipanggil Bimbim.

Wednesday, 12 March 2014

Ketika Gema Adzan Belum Cukup Memanggil


Mengajak umat untuk menunaikan kewajiban sholatnya dengan hanya bermodalkan kata-kata ceramah saja belumlah cukup. Mereka yang telah sedemikian lemah imannya perlu perlakuan ekstra. Ibarat seorang yang hampir sekarat karena kehausan di padang pasir, maka mengingatkan dia untuk minum saja tidak akan membuatnya bertahan hidup. Yang perlu dilakukan adalah dengan memapahnya ke sebuah sumber air lalu membantunya meneguk. Dan jika ada yang bertanya, kenapa kita tidak berbagi saja bekal air kita dengannya? Maka iman tidak bisa didonasi, tapi harus ditimba langsung oleh yang bersangkutan.

Berdasarkan fakta dan ilustrasi seperti itulah, sehingga beberapa warga di Dusun Tani Mulya, Desa Naru, Kecamatan Woha menjalankan sebuah program yang sementara ini mereka sebut Jaulah. Yaitu berombongan keliling kampung untuk mengajak serta orang yang ditemuinya guna menunaikan sholat berjamaah di mesjid.


Sebagaimana dikatakan Amrin Hamzah, S.Ag mewakili rekan-rekannya kepada Jompa Mbojo pada Selasa malam (12/3), bahwa program jaulah ini mereka jadwalkan dua kali dalam seminggu, pada saat menjelang adzan isya. Maka itu mereka bagi menjadi jaulah satu pada malam Senin dan jaulah dua pada malam Selasa.

Dimana jaulah satu mereka lakukan dengan berkeliling di RT 07 Dusun Tani Mulya, untuk mengajak warga yang mereka temui di jalan-jalan dan gang perkampungan, sekaligus membimbing langsung tangan mereka menuju Mesjid Al-Furqan. Sedangkan Jaulah dua mereka pintaskan di RT 08 dan ‘mengawal’ langsung warga yang mereka temui untuk melakukan sholat berjamaah ke Mushollah yang ada di RT 08.

Hasil dari program jaulah ini dinilai Amrin sangat efektif, warga yang biasanya masih asyik nongkrong di jalanan ketika adzan isya berkumandang mampu mereka bimbing ke Mesjid dan atau Mushollah. “Alhamdulillah, Mesjid yang biasanya kalau sholat isya hanya berisi satu syaf bisa menjadi tiga syaf. Mushollah yang biasanya hanya berisi 4 jamaah bisa menjadi 30-an orang. Itu kan luar biasa?” Syukur Amrin usai melakukan taklim (pengajian, red) dengan sesama rekannya di mesjid.

Diakui Amrin, awalnya jaulah ini adalah inisiatif dari sebuah jamaah yang biasanya disebut-sebut sebagai Jama’ah Tabligh. Tapi fakta yang patut disyukuri adalah, rekan-rekannya yang terlibat sekarang bukanlah mereka yang nota bene bergabung dalam suatu jamaah tertentu. Sehingga Amrin dan rekan-rekannya tidak lagi terkesan sebagai sebuah jamaah, tapi merupakan bagian dari masyarakat biasa yang peduli dengan kehidupan sosial keagamaan di lingkungannya.

“Jaulah yang telah kita jalankan hampir dua bulan terakhir ini adalah program milik masyarakat umum, program kampung kita. Kita harus membuang jauh-jauh kesan bahwa jaulah adalah program eksklusif dari jamaah tertentu. Sehingga kita tidak perlu risih untuk terlibat (dalam jaulah,red).” tandas Amrin. Bahkan menurutnya kalau perlu, istilah ‘Jaulah’ boleh dirubah dengan istilah yang lain. Intinya bagi mereka adalah membantu sesama muslim untuk bisa menegakkan sholat dan lebih meramaikan masjid dan mushollah.

“Sholat di rumah itu ibarat seseorang yang menyekap nikmat Allah untuk dirinya sendiri. Tanpa sadar kita telah berlaku kikir kepada saudara-saudara kita yang lain. Ketika kita berjalan menuju masjid, dan saudara-saudara kita melihat kita, lambat laun mereka akan merasa aneh untuk tidak sholat. Maka itu ramaikan masjid, karena manusia ini cenderung ke arah keramaian,” imbuh Ustadz muda ini.

Sekali lagi disyukuri Amrin, bahwa warga Dusun Tani Mulya sudah paham tentang makna jaulah sehingga sebagian besar warga menyambutnya dengan haru, meski yang terlibat aktif dalam jaulah belum melebihi sepuluh orang dan rata-rata masih muda. Tapi ia optimis jika program ini terus dijalankan, maka lambat laun warga yang aktif terlibat akan terus bertambah.

“Awalnya yang ambil bagian dalam usaha ini hanya empat orang, tapi setelah dua bulan berjalan, yang aktif kadang bisa sampai 10 orang. Insya Allah, semoga terus bertambah beriring waktu,” harap Amrin. Dengan adanya program ini, Amrin berharap warga yang belum sholat bisa dipapah untuk menegakkannya. Sedang mereka yang sholatnya hanya di rumah bisa diajak berbimbingan ke masjid.

Patut ditiru, diamini, dan didukung memang harapan dan usaha mereka ini. Beberapa warga yang dengan tulus mencoba untuk menebarkan aura agama di perkampungannya. Dan ketika gema Adzan tidak lagi mampu mengetuk hati kita untuk merasa terpanggil mendatangi masjid, mereka jalan berkeliling kampung untuk mengulurkan tangannya memapah saudara-saudara mereka menuju masjid. [Adn]

No comments:

Post a Comment