text-align: left;"> KAMPUNG MEDIA "JOMPA - MBOJO" KABUPATEN BIMA: Dibalik Fenomena Batu Cincin Yang Mewabah
Info

SELAMAT DATANG

Di Kabupaten Bima, Komunitas Kampung Media pertama yang dibentuk yakni, JOMPA MBOJO. Pasca dikukuhkan di Kantor Camat Woha pada tahun 2009, Kampung Media JOMPA MBOJO secara langsung membangun komunikasi dengan DISHUBKOMINFO Kab. Bima. Pada Jambore Kampung Media NTB (15/9/2012), JOMPA MBOJO mendapatkan penghargaan pada kategori “The Best Promotor”, yang merupakan penilaian tentang peran serta Pemerintah Daerah dalam menunjang segala kegiatan Komunitas Kampung Media, dan juga dinobatkan sebagai DUTA INFORMASI.

Sekilas Tentang Admin

Bambang Bimawan, tapi biasa dipanggil Bimbim.

Saturday, 14 March 2015

Dibalik Fenomena Batu Cincin Yang Mewabah

Cincin bermata batu akik yang dari dulu sudah ada, kini memasuki masa keemasannya. Lantas fenomenan itu pun menjadi tren yang digandrungi oleh masyarakat dari kalangan anak muda hingga orang tua. Hal ini dipengaruhi oleh populernya batu akik yang mulai mewabah di tiap penjuru nusantara.

Di Kabupaten Bima, sudah mulai muncul penjual dan perajin batu mulia tersebut. Pasalnya, dalam bongkahan batu tersebut terdapat rupiah yang cukup menjanjikan. Akibatnya, bermunculan para pengusaha dan pencari batu akik. Mereka seolah-olah ingin mendapat keuntungan dalam memanfaatkan kepopuleran batu akik yang luar biasa pesatnya ini.

Demikian halnya dengan tiga orang pemuda di Desa Runggu Kecamatan Belo ini, Irawan, Fahmin dan Kadrin. Jemari tangan kanan mereka tampak lincah menari di mesin gerinda. Batu kecil berwarna tersebut satu persatu dijepit di antara jemari mereka. Sembari mengusap serpihan batu yang berterbangan di sekitar wajah mereka.

Sejak pagi hingga malam, ketiga pemuda ini terus bergelut dengan gerinda dan bongkahan batu. Mereka mencari dan mengerjakan pemolesan batu akik yang diperoleh di pegunungan sekitar.

Aktivitas pemolesan batu akik tersebut dilakukan di kediaman salah seorang diantara mereka di RT 03 RW 01 desa setempat. Meski belum ada langganan, geliat para pemuda ini terus dilakukan sambil menawarkan kepada warga sekitar.

"Baru dua minggu ini kita menjadi pengerajin batu akik. Ada beberapa orang yang sudah membeli dengan harga Rp 20 hingga 30 ribu per cincin ukuran sedang," ujar seorang diantara mereka, Kadrin.

Para pemuda ini mengaku, sehari mereka mampu memoles bongkahan batu sampai menjadi batu akik sebanyak 4 pasang. Menurut mereka, satu batu bisa menghabiskan waktu dua sampai tiga jam. Mulai dari memotong bongkahan batu, dihaluskan, hingga menjernihkan permukaan batu.

"Untuk batunya kita cari di pegunungan sekitar. Kemudian dibelah kecil-kecil sesuai ukuran. Barulah diamplas dan dipoles hingga kinclong," kata Kadrin.

Dengan kerajinan ini, Kadrin dan dua temannya bisa meraup rupiah yang bisa mencukupi keseharian mereka. "Dari pada nggak ada kerjaan, mending jadi pengerajin ini. Mumpung lagi heboh dan banyak peminat," tukasnya. (Bim)

No comments:

Post a Comment