text-align: left;"> KAMPUNG MEDIA "JOMPA - MBOJO" KABUPATEN BIMA: Garoso Mbojo Buah Primadona Asli Bima
Info

SELAMAT DATANG

Di Kabupaten Bima, Komunitas Kampung Media pertama yang dibentuk yakni, JOMPA MBOJO. Pasca dikukuhkan di Kantor Camat Woha pada tahun 2009, Kampung Media JOMPA MBOJO secara langsung membangun komunikasi dengan DISHUBKOMINFO Kab. Bima. Pada Jambore Kampung Media NTB (15/9/2012), JOMPA MBOJO mendapatkan penghargaan pada kategori “The Best Promotor”, yang merupakan penilaian tentang peran serta Pemerintah Daerah dalam menunjang segala kegiatan Komunitas Kampung Media, dan juga dinobatkan sebagai DUTA INFORMASI.

Sekilas Tentang Admin

Bambang Bimawan, tapi biasa dipanggil Bimbim.

Saturday, 14 March 2015

Garoso Mbojo Buah Primadona Asli Bima

Buah Garoso adalah sejenis buah Srikaya termasuk pohon buah-buahan kecil yang tumbuh di tanah berbatu, kering, dan terkena cahaya matahari langsung. Tumbuhan yang asalnya dari Hindia Barat ini akan berbuah setelah berumur 3-5 tahun.

Garoso sering ditanam di pekarangan, dibudidayakan, atau tumbuh liar, dan bisa ditemukan sampai ketinggian 800 m dari permukaan air laut. Ukuran pohonny memiliki tinggi 2-5 m.

Meski belum memasuki puncak musim Garoso, namun para pedagang musiman sudah nampak berjejer di sepanjang jalan dari Desa Panda hingga memasuki Kota Bima. Mereka menunggu pengendara yang melintas untuk menjajaki buah garoso dengan berbagai ukuran.

Pada bulan-bulan seperti ini, antara Februari-Maret, buah garoso banyak dijajaki di lapak-lapak sepanjang jalur Panda-Bima oleh warga. Puncak musim garoso ini akan terjadi pada akhir Maret nanti dan diperkirakan buah asli Bima ini akan meluber hingga ke trotoar jalan.

Seorang penjual Garoso di perbatasan Kota dan Kabupaten Bima, Sunarti, 45 tahun mengaku, saat ini buah Garoso belum memasuki puncak musimnya. Sehingga mereka kesulitan mendapatkan Garoso untuk dijual.

Diakui, buah ini sangat diminati oleh masyarakat terutama warga lokal. Karena rasanya yang manis, buah ini juga kerap menjadi incaran para penikmat Garoso bahkan hingga ke pulau Jawa.

"Garoso ini sudah mulai terkenal dengan rasanya yang khas hingga ke pulau Jawa. Ini membuat saya menjadi penjual musiman untuk menjual Garoso," ujarnya.

Menurut dia, puluhan orang yang berjualan di pinggir jalan tersebut adalah bagian yang tidak terpisahkan ketika musim Garoso tiba. Mereka adalah pedagang musiman yang memiliki profesi lain sebelum maupun setelah musim Garoso.

"Semua penjual rata-rata merupakan pedagang musiman, baik saat musim jagung maupun saat musim Garoso seperti saat ini," terangnya.

Dia mengemukakan, bahwa dirinya merupakan penjual ikan dan sayuran. Namun ketika musim Garoso tiba, ia dan anak-anak serta keluarga beralih profesi untuk sementara waktu. Mereka menjual Garoso baik yang berasal dari kebunnya maupun yang didapat dari pemilik kebun lainnya. "Alhamdulillah, di musim Garoso ini ada  sedikit rejeki untuk uang sekolah anak-anak," akunya.

Dikatakan, omzet dari penjualan Garoso sendiri tidaklah banyak. Namun, karena banyak peminat sehingga mereka mau menjual walaupun untung sedikit. Diakui, penjualan Garoso sebanyak 1000 biji bisa habis dalam satu hari.

"Malah kurang mas. Bahkan setiap hari kita pesan ke pemilik kebun, rata-rata habis terjual," katanya, sambil melayani para pembeli yang biasanya ramai mengunjungi pinggir-pinggir pantai teluk Bima di sore hari.

Saat ditanya berapa keuntungan yang diperoleh, sambil tesenyum Ibu 7 anak ini menjawab bahwa penghasilannya sehari bisa mencapai Rp 50 hingga 100 ribu. "Apalagi kalau hari libur, biasanya mereka datang rombongan dan ada juga yang dibungkus," tandasnya. (Bim)

No comments:

Post a Comment